PROGRAM PEMBINAAN KARAKTER SISWA “Smartren Virtual 2021”

April 15, 2021

Dimensi rohani sebagai komponen peneguh nilai spiritualisme seseorang menjadi sangat penting untuk dipahami agar dapat secara lestari dikembangankan sesuai dengan tuntutan zaman serta diaplikasikan secara konsisten. Melalui program pendidikan karakter lulusan SMK kekuatan kerohanian dipandang sebagai salah satu pilar utama penopang terciptanya sumberdaya manusia lulusan SMK Indonesia yang berkarakter religius dan berkualitas. Sebagaimana diketahui bahwa terdapat lima nilai karakter utama yang bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan gerakan Pengembangan Pendidikan Karakter; yaitu religius, nasionalis, integritas, kemandirian, dan kegotongroyongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berkorelasi antar satu dengan lainnya, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Sedangkan proses internalisasinya melalui pendidikan karakter yang diinisiasi dari empat dimensi pendidikan karakter oleh Ki Hajar Dewantara yaitu olah hati atau rasa, olah pikir, olah karsa, dan olah raga.

Dari persepktif lain, kerohanian kerap juga diartikulasikan sebagai dimensi religius. Hal ini disebabkan oleh pemahaman dan cara pandang atau asumsi kebanyakan orang bahwa segala yang berhubungan dengan urusan rohani atau kerohanian itu merupakan preseden yang diarahkan pada nilai-nilai religiusitas atau spriritualisme. Oleh karenanya dalam hal ini pembinaan kerohanian pun memiliki kesamaan dengan dimensi religius (religi) dan spiritual. Lebih jauhnya, religi terdiri dari beberapa dimensi, yakni: (1) dimensi kredial atau keimanan, (2) dimensi ritual atau peribadatan, dan (3) dimensi moral atau akhlak. Kemudian dalam UUD 1945 (hasil amandemen) dan Undang-Undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional terdapat juga karakter takwa yang dapat dikategorikan sebagai dimensi keempat. Selain itu, khusus bagi pelajar yang beragama Islam, perlu juga ditambahkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Quran. Jadi, kajian karakter religius yang perlu dikembangkan di sekolah harus mencakup karakter tersebut ditambah karakter terampil membaca Al-Quran bagi siswa muslim.

Atas dasar itulah SMK Negeri 3 Bandung melalui bidang pembinaan kesiswaan yang berkolaborasi dengan guru mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta guru mata pelajaran PKn berupaya untuk  berkontribusi dalam pembentukan karakter pada peserta didik khususnya melalui kegiatan Pesantren Ramadhan 1442 H di Sekolah. Sebuah kegiatan keagamaan pada bulan mulia ini untuk membentuk kepribadian, penanaman nilai-nilai religi dan juga memberikan pengalaman berkesan yang membekas dalam jiwa peserta didik sebagai bekal yang bermanfaat bagi pembentukan kepribadiannya kelak. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga untuk memberikan pelajaran kepada peserta didik agar terbiasa belajar agama sejak dini dan terus menerus sehingga timbul pada diri peserta didik bahwa pendidikan karakter merupakan kebutuhan bagi setiap peserta didik di sekolah, yang selain memberikan pengetahuan agama juga memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk bersikap religius, mandiri, disiplin,
empati, toleransi, empati, berakhlak mulia serta amar ma’ruf nahi munkar. Dengan begitu, diharapkan tujuan pendidikan di SMK Negeri 3 Bandung dalam menghasilkan outcome yang unggul dapat tercapai dengan baik.

Pesantren Ramadhan merupakan suatu kegiatan pendidikan keagamaan yang bersifat intrakurikuler dan diselenggarakan oleh lembaga pendidikan formal baik yang berbasis agama maupun umum. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada Bulan Puasa (Ramadhan). Adapun Pesantren Ramadhan itu sendiri tersusun dari dua kata, yakni Pesantren dan Ramadhan. Karel A. Steenbrink (1994) berpendapat bahwa asal usul istilah pesantren berasal dari bahasa Arab “Funduq” yang berarti pesanggrahan atau penginapan bagi orang yang bepergian. Dalam Kamus Bahasa Indonesia (2008), kata pesantren memiliki arti madrasah dan asrama (tempat mengaji; belajar agama Islam), seperti Pesantren Gontor Ponorogo, Tebuireng Jombang, Krapyak Jogjakarta, dan pesantren lainnya. Abdurrahman Wachid (2001) juga sering menggunakan istilah yang semakna dengan kata pesantren, di mana secara teknis pesantren adalah tempat tinggal santri,.Pengertian tersebut menunjukkan ciri pesantren yang paling penting, yaitu sebuah lingkungan pendidikan yang sepenuhnya total. Tiap pesantren mengembangkan kurikulumnya dan menetapkan institusi-institusi pendidikannya sendiri dalam rangka merespon tantangan dari luar. Adapun yang berkenaan dengan Ramadhan, Ahmad Syarifuddin (2003) menyatakan bahwa Ramadhan berasal dari asal kata bahasa Arab “ramadha-yarmudhu-Ramadhan”, yang artinya panas membakar. Orang Arab dahulu ketika memindahkan nama-nama bulan dari bahasa lama ke bahasa Arab, mereka menamakan bulan itu menurut masa yang dilaluinya. Kebetulan Bulan Ramadhan pada masa itu melalui masa panas akibat sengatan terik matahari. Panas membakarnya Bulan Ramadhan bisa juga berarti Bulan Ramadhan memberikan energi untuk membakar dosa-dosa yang dilakukan manusia.Menurut kamus bahasa Indonesia sendiri, kata Ramadhan mempunyai arti bulan kesembilan (bulan puasa) menurut perhitungan Tahun Hijriyah. Dengan demikian, istilah Pesantren Ramadhan mengandung arti suatu rangkaian kegiatan pembelajaran agama secara totalitas yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan dalam rangka mempersiapkan anak didiknya untuk menjadi generasi yang memiliki kedalaman spiritual dan berkepribadian Islami yang dilakukan di Bulan Ramadhan.

Sasaran kegiatan Pembinaan Karakter melalui program ini adalah:
1. Peserta didik pada kelas X dan XI semua program keahlian di SMK Negeri 3 Bandung.
2. Pembina Kesiswaan, Guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti serta guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) baik pada SMK Negeri 3 Bandung sebagai pelaksana program kegiatan.
3. Kepala SMK Negeri 3 Bandung sebagai penanggungjawab program kegiatan pada satuan pendidikan.

Adapun Tujuan dari program ini adalah:
1. Meningkatkan keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia peserta didik;
2. Menumbuhkembangkan kesadaran peserta didik akan rasa cinta dan pengabdiannya terhadap Allah SWT;
3. Memberikan gambaran umum tentang implementasi Ketuhanan dalam kehidupan berbangsa, bertanah air, serta bermasyarakat dalam bentuk manifestasi birrul waalidain, empati terhadap sesame, gotong royong, toleransi, cinta tanah air;
4. Meningkatkan amal ibadah peserta didik pada bulan Ramadhan yang arahnya mendorong pembentukan kepribadian peserta didik baik secara rohani maupun jasmani dengan melakukan penghayatan terhadap ibadah puasa dan amal-amal ibadah lainnya yang dikerjakan;

Waktu Pelaksanaan mulai tanggal 15 s.d. 30 April 2021 yang terintegrasi melalui aplikasi google classroom dan google meet.

 

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat